Skip to main content

Pahami perilaku kekerasan pada diri anak

Sebagian orang pasti pernah mengalami sebuah kekerasan, entah itu saat masih berusia anak-anak maupun saat sudah dewasa. Kekerasan sendiri di sebut juga dengan perilaku agresif yang bisa saja menyakiti bahkan melukai orang lain. Hal ini sangat tidak baik apabila di alami oleh anak di bawah umur. Penganiayaan atau tindak kekerasan yang di alami oleh anak-anak bisa saja dalam bentuk fisik, seksual, atau pun penganiayaan secara emosional atau psikist. Selain mereka akan mengalami trauma, perlakuan kasar tersebut akan  mempengaruhi bahkan membentuk karakter mereka pada kemudian hari. Entah mereka akan menjadi seseorang introvert atau bahkan menjadi pelaku kekerasan juga pada kemudian hari.

gambar Pahami perilaku kekerasan pada diri anak

Bukan hanya tidak bisa memaklumi kenakalan anak saja, terkadang banyak orang tua yang juga menjadikan anak mereka sebagai sasaran empuk untuk melampiaskan amarah saat sedang mengalami suatu permasalahan secara emosional. Kembali lagi seperti apa yang sudah saya jelaskan bahwa kekerasan di sini tidak hanya mencakup tentang kekerasan secara fisik saja.

Ada banyak jenis bentuk kekerasan terhadap anak, seperti:

Penelantaran terhadap anak, dengan sengaja menelantarkan anak hingga membiarkan mereka bahkan saat mereka dalam keadaan berbahaya salah satu sikap orang tua yang bisa di kategorikan sebagai sebuah tindak kekerasan terhadap anak secara fisik namun tidak secara langsung loh...

Kekerasan fisik secara langsung atau agresi fisik seberti hal nya mencubit, menjambak rambut atau telinga, menendang, mendorong, menampar, memukul hingga memar, bahkan ada yang sampai tega membakar anak nya sendiri. Dengan hal seserius ini sudah jelas bisa saja menyebabkan hal-hal yang tidak kita inginkan. Bisa saja mulai mengalami trauma akut, luka atau cacat fisik bahkan hingga menyebabkan kematian pada anak.
Kekesaran seksual, bentuk pelecehan ini di lakukan oleh orang dewasa baik orang jauh maupun orang dekat korban untuk melakukan stimulasi seksual. bentuk pelecehan ini memiliki banyak variasi, mulai dari menunjukkan hal-hal yang tidak senonoh, memberi tahu foto atau video as*sila hingga melakukan kontak secara fisik terhadap alat kel*min anak. Pelecehan satu ini tergolong ke dalam pelecehan akut.

Nah, untuk memahami beberapa karakter anak yang mengalami tindak kekerasan pada dalam diri mereka berikut ada penjabaran nya:

Mempertimbangkan usia anak
Bila anak masih ber usia sangat kecil, yang menginjak usia sekitar dua hingga empat tahun mungkin saja mereka sangat sulit untuk mengekspresikan pikiran serta perasaan mereka. Selain mengalami kendala karena ketidak mampuan mereka dalam berkomunikasi, mereka juga sulit untuk memunculkan ekspresi dari dalam diri mereka. Di sini kita sebagai orang dewasa atau bahkan sebagian dari kita sudah menjadi orang tua, sudah sepatut nya kita lebih jely terhadap segala tingkah laku mereka. Apalagi kita yang mungkin saja kerap menitipkan anak-anak kita kepada orang lain atau bahkan ke balai penitipan anak. Kita wajib saja memencurigai hal tersebut apabila ada tingkah dan gerak-gerik anak mulai sedikit berubah. Seperti mereka mulai agresif terhadap orang sekitar mereka, saat mereka secara tiba-tiba merasa ketakutan oleh sesuatu yang mula nya baik-baik saja bahkan jika mereka mulai menjadi murung dan berkurangnya gairah mereka untuk bermain dan lain hal nya.

Menyadari ke agresifan anak
Dengan menyadari bahwa anak laki-laki memang lebih agresif, akan tetapi tidak lantas menjamin bahwa anak perempuan juga bisa melakukan suatu tindakan kekerasan. Namun yang terlihat pada anak perempuan memang lebih calm down saat menghadapi suatu permasalahan. Hal tersebut di sebabkan karena pada diri anak perempuan sendiri yang cenderung lebih bisa memegang kendali atas kemarahan mereka. Sedang kan pada mereka (anak laki-laki) yang lebih terlihat agresif, memang faktanya mereka tidak pandai untuk menahan sesuatu. Mereka akan lebih cenderung langsung mengekspresikan nya. Akan tetapi untuk permasalahan tentang agresi secara verbal, memang anak perempuan lah yang lebih menonjol kan. Beberapa bentuk agresif secara verbal seperti bergosip, menghina dan menjuluki.

Menyadari bahwa dinamika keluarga bisa mempengaruhi agresi anak
Tidak jarang anak-anak seringkali dalam menghadapi situasi akan menirukan pola dan cara yang di lakukan oleh orang-orang di dalam keluarganya dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Untuk masalah memori anak jangan pernah di anggap remeh ya, seorang anak merupakan cctv abadi yang bisa saja merekam dan menyimpan sebuah rekaman tersebut dalam waktu yang lama. Bahkan bisa saja hal tersebut hingga mempengaruhi tindakan maupun perilaku mereka.

Perhatikan pola tidur anak
Jika kita perhatikan, bahwa anak yang mengalami kurang tidur atau sering kali tidur larut pada malam hari cenderung memiliki sikap yang lebih agresif  bila di bandingkan dengan anak yang tidur dengan jam teratur. Karena hal ini, mereka akan lebih sering merasa kelelahan dan mengantuk sehingga memiliki banyak kemungkinan sering rewel dan mengamuk saat pagi atau siang hari. Bisa jadi juga hal tersebut bisa memancing emosi kita sehinggga tanpa menyadari sedikit melakukan kekerasan kepada mereka seperti mengabaikan atau bahkan mencubit mereka.

Batasi penggunaan media kepada mereka
Media yang kita maksut kan di sini adalah handphone dan tv. Adanya cartoon di televisi serta permainan video di handphone akan menyebabkan anak lebih fokus terhadap keduanya. Meskipun permainan dan film cartoon tersebut memang di tujukan kepada anak-anak, namun tetap saja ada kemungkinan ada unsur tindak kekerasan yang di tayangkan di sana. Dengan begitu bisa saja mereka mulai memperhatikan dan bahkan menirukan banyak hal yang mereka lihat. Maka dari itu, ada baik nya jika kita sebagai orang tua mulai membatasi tayangan yang di tonton oleh anak apalagi jika usia anak masih sangat kecil.

Nah... dari sini kita semua bisa tahu bahwa apapun jenis kekerasan yang telah di alami oleh anak-anak, sudah sepantas nya bila hal seperti ini mendapatkan perhatian khusus dari pihak terkait seperti komnas ham, komnas perlindungan wanita dan anak maupun dari diri kita sendiri. Sebagai orang dewasa, memang sudah seharus nya kita menjadi pelindung serta memberikan rasa nyaman terhadap anak-anak. Jangan malah membuat mereka merasa ketakutan apabila dekat dengan kita. Semoga bermanfaat~

baca juga cara mengatasi kenakalan anak di bawah usia 2 tahun